<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Agus Hadi Wibowo</title>
	<atom:link href="http://agushw.banjarbaru.net/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://agushw.banjarbaru.net</link>
	<description>Hanya Satu Kata Untuk Para Penghianat "BANGSAT"</description>
	<pubDate>Fri, 31 Jul 2009 01:12:22 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Terbelenggu tak tersapa&#8230;</title>
		<link>http://agushw.banjarbaru.net/2009/07/terbelenggu-tak-tersapa.html</link>
		<comments>http://agushw.banjarbaru.net/2009/07/terbelenggu-tak-tersapa.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Jul 2009 01:12:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus_HW</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Roman picisan]]></category>

		<category><![CDATA[Terbelenggu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agushw.banjarbaru.net/?p=189</guid>
		<description><![CDATA[Disini aku hilang&#8230;..
tak bisa berbuat seperti mereka&#8230;&#8230;
Disini aku terbelenggu&#8230;.
dikendalikan bak robot&#8230;.otakku dicuci&#8230;.
Disini aku terbinasa&#8230;
hanya bisa separuh nafas yang mengalir&#8230;&#8230;
Disni aku kaku&#8230;.
hanya terdiam memandang lurus kedepan tanpa bisa bergerak bebas&#8230;.
Aku terdiam&#8230;..Aku tak tersapa&#8230;..hanya seekor itik kecil&#8230;..
Bebas kan aku&#8230;.ya bebas kan&#8230;.biarkan lepas&#8230;.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Disini aku hilang&#8230;..</p>
<p>tak bisa berbuat seperti mereka&#8230;&#8230;</p>
<p>Disini aku terbelenggu&#8230;.</p>
<p>dikendalikan bak robot&#8230;.otakku dicuci&#8230;.</p>
<p>Disini aku terbinasa&#8230;</p>
<p>hanya bisa separuh nafas yang mengalir&#8230;&#8230;</p>
<p>Disni aku kaku&#8230;.</p>
<p>hanya terdiam memandang lurus kedepan tanpa bisa bergerak bebas&#8230;.</p>
<p>Aku terdiam&#8230;..Aku tak tersapa&#8230;..hanya seekor itik kecil&#8230;..</p>
<p>Bebas kan aku&#8230;.ya bebas kan&#8230;.biarkan lepas&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agushw.banjarbaru.net/2009/07/terbelenggu-tak-tersapa.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Legenda Tikus dan Kucing Bermusuhan</title>
		<link>http://agushw.banjarbaru.net/2009/06/legenda-tikus-dan-kucing-bermusuhan.html</link>
		<comments>http://agushw.banjarbaru.net/2009/06/legenda-tikus-dan-kucing-bermusuhan.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Jun 2009 00:54:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus_HW</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[cerita sekilas]]></category>

		<category><![CDATA[Kerbau]]></category>

		<category><![CDATA[Kucing]]></category>

		<category><![CDATA[Legenda]]></category>

		<category><![CDATA[Shio]]></category>

		<category><![CDATA[Tikus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agushw.banjarbaru.net/?p=186</guid>
		<description><![CDATA[Menurut legenda tradisional Cina, keduabelas binatang dikumpulkan dalam satu hari untuk menentukan siapa yang menjadi pemimpin dalam siklus pertahunan. Sang Khalik membuat kontes tersebut : siapapun yang dapat menyeberang sungai akan mendapat giliran pertama, dan sisanya akan mengikuti urutan sesuai dengan kedatangan mereka.
Pada awalnya keduabelas binatang berkumpul di dalamnya termasuk Kucing. Kucing memberitahu berita ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menurut legenda tradisional Cina, keduabelas binatang dikumpulkan dalam satu hari untuk menentukan siapa yang menjadi pemimpin dalam siklus pertahunan. Sang Khalik membuat kontes tersebut : siapapun yang dapat menyeberang sungai akan mendapat giliran pertama, dan sisanya akan mengikuti urutan sesuai dengan kedatangan mereka.</p>
<p>Pada awalnya keduabelas binatang berkumpul di dalamnya termasuk <a title="Kucing" href="http://triy.files.wordpress.com/2008/09/z_kitten_mommy_cat.jpg" target="_blank">Kucing</a>. <a title="Kucing" href="http://triy.files.wordpress.com/2008/09/z_kitten_mommy_cat.jpg" target="_blank">Kucing</a> memberitahu berita ini kepada teman baiknya si <a title="Tikus" href="http://krish.blogdetik.com/files/2008/08/mice_5638.jpg" target="_blank">Tikus</a>, dan mereka setuju untuk pergi berdua keesokan harinya. Namun, ketika hari dimana kontes dimulai <a title="Tikus" href="http://krish.blogdetik.com/files/2008/08/mice_5638.jpg" target="_blank">Tikus</a> tidak membangunkan <a title="Kucing" href="http://triy.files.wordpress.com/2008/09/z_kitten_mommy_cat.jpg" target="_blank">Kucing</a>, yang sebagai seorang kucing senang sekali tidur sepanjang hari. Maka itu, kucing tidak mengikuti lomba dan tidak masuk dalam siklus tahunan shio.</p>
<p><span id="more-186"></span></p>
<p>Pada saat kompetisi, <a title="Tikus" href="http://krish.blogdetik.com/files/2008/08/mice_5638.jpg" target="_blank">tikus</a> yang penuh akal menumpang pada si <a title="Kerbau" href="http://www.gonomad.com/features/0612/komodo-images/Kerbau.jpg" target="_blank">Kerbau</a> yang kuat dan gagah untuk menyeberangi sungai. Ketika kerbau sudah mau meloncat ke tepian seberang sungai, tanpa sepengetahuan <a title="Kerbau" href="http://www.gonomad.com/features/0612/komodo-images/Kerbau.jpg" target="_blank">Kerbau</a>, si <a title="Tikus" href="http://krish.blogdetik.com/files/2008/08/mice_5638.jpg" target="_blank">Tikus </a>meloncat dari punggung kerbau, dan menjadikan dia pemenang kontes.</p>
<p>Binatang terakhir adalah binatang malas yaitu Babi yang pemalas. Oleh karena itu, Tikus menjadi tahun pertama dari siklus shio, dan diakhiri oleh babi tanpa adanya shio Kucing dalam dua belas siklus tahun itu. Dan oleh karena itu juga, menurut legenda, <a title="permusuhan kucing dengan tikus" href="http://www.macsparky.com/wp-content/uploads/2007/09/cat-mouse.jpg" target="_blank">permusuhan antara Kucing dengan Tikus </a>dimulai dan masih berlanjut sampai sekarang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agushw.banjarbaru.net/2009/06/legenda-tikus-dan-kucing-bermusuhan.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jika penghasilan istri lebih besar dari suami</title>
		<link>http://agushw.banjarbaru.net/2009/04/jika-penghasilan-istri-lebih-besar-dari-suami.html</link>
		<comments>http://agushw.banjarbaru.net/2009/04/jika-penghasilan-istri-lebih-besar-dari-suami.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Apr 2009 14:16:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus_HW</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Orak Arik]]></category>

		<category><![CDATA[gaji]]></category>

		<category><![CDATA[istri]]></category>

		<category><![CDATA[laki-laki]]></category>

		<category><![CDATA[penghasilan]]></category>

		<category><![CDATA[suami]]></category>

		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agushw.banjarbaru.net/?p=182</guid>
		<description><![CDATA[Karier dan penghasilan istri yang lebih besar seharusnya tidak menjadi sebuah masalah. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pasangan suami-istri agar tidak menuai konflik saat hal itu terjadi.
1. Ubah pola pikir
Selama ini pola pikir dalam masyarakat cenderung menempatkan wanita dalam wilayah domestik yang bertanggung jawab terhadap urusan pengasuhan anak dan dapur. Sementara itu, lelaki [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Karier dan penghasilan istri yang lebih besar seharusnya tidak menjadi sebuah masalah. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pasangan suami-istri agar tidak menuai konflik saat hal itu terjadi.</p>
<p><strong>1. Ubah pola pikir</strong><br />
Selama ini pola pikir dalam masyarakat cenderung menempatkan wanita dalam wilayah domestik yang bertanggung jawab terhadap urusan pengasuhan anak dan dapur. Sementara itu, lelaki berperan sebagai pencari nafkah dan tulang punggung keluarga.</p>
<p>Gambaran ini sebenarnya salah kaprah. Tanggung jawab dan kelangsungan rumah tangga tidak berada dalam satu tangan (suami), melainkan tanggung jawab bersama. Konflik biasanya muncul karena pola pikir yang salah. Bila masing-masing pasangan mau lebih mengerti, konflik pasti bisa dihindari.</p>
<p>Karena itu, syukuri besarnya gaji Anda sebagai sebuah berkah. Sebab, pemasukan yang lebih besar berarti kualitas hidup pun jadi lebih baik.</p>
<p><strong>2. Pandai menempatkan diri</strong><br />
Anda harus bisa menempatkan dirinya dengan baik. Di luar rumah, Anda boleh saja berperan sebagai seorang direktur. Namun, ketika kembali ke rumah, Anda harus ingat peran Anda sebagai istri.</p>
<p>Inilah yang sering kali terlupakan. Anda membawa kebiasaan di kantor ke rumah sehingga suami merasa menjadi bawahan Anda.</p>
<p>Hal serupa juga berlaku ketika suami masuk ke lingkup pergaulan Anda. Saat ada acara di kantor Anda, usahakan suami tidak merasa minder. Bantu ia untuk menempatkan diri sebagai seorang suami dari atasan kantor istrinya. Tak perlu berpikir negatif tentang hal lainnya.</p>
<p><strong>3. Berbagi tanggung jawab</strong><br />
Karier Anda semakin cemerlang dengan promosi yang baru Anda dapatkan tahun ini. Ini juga berarti tuntutan tanggung jawab yang lebih besar di kantor. Konsekuensinya, waktu untuk keluarga pun jadi berkurang. Lalu, siapa yang bertugas mengurus rumah dan anak-anak? Untuk masalah satu ini, pasangan suami-istri harus memutuskannya berdasar apa yang terbaik untuk anak-anak. Lupakan dulu ego masing-masing!</p>
<p>Bila suami pekerja freelance, usahakan agar pekerjaan tersebut bisa dilakukan di rumah. Suami bisa tinggal di rumah, sementara Anda bekerja. Bagi pekerjaan rumah tangga, mulai mengantar anak sekolah, membersihkan rumah, hingga berbelanja kebutuhan rumah. Dengan demikian, anak-anak dan urusan rumah tetap terjaga. Anda pun tak perlu merasa bersalah saat harus meninggalkan rumah untuk bekerja.</p>
<p>Hilangkan pemikiran bahwa tinggal di rumah sama dengan tidak bekerja. Jangan pernah menganggap remeh pekerjaan rumah tangga. Sebab, itu adalah pekerjaan yang sangat berat, yang dilakukan sejak matahari terbit hingga tenggelam. Tak ada salahnya dengan menjadi bapak rumah tangga, kok.</p>
<p><strong>4. Pengaturan finansial</strong><br />
Saat posisi pekerjaan berada dalam satu level, pengaturan masalah keuangan mungkin tak ada masalah. Namun, ketika gaji Anda lebih besar, kadang-kadang Anda merasa punya kuasa lebih dalam mengatur keuangan. Nah, hal inilah yang biasanya membuat suami mudah tersinggung.</p>
<p>Untuk mengatasi masalah ini, sebaiknya Anda dan pasangan membuat pengaturan finansial yang lebih fleksibel. Artinya, aturan ini merupakan hasil kesepakatan bersama. Misalnya, penghasilan keduanya disatukan baru kemudian dibagi sesuai dengan pos-pos pengeluaran yang telah ditentukan.</p>
<p>Bagaimanapun cara pengaturannya, sebenarnya hal itu tidak menjadi masalah. Yang penting adalah kebutuhan rumah tangga dapat terpenuhi dengan baik. Selama hal itu tidak membuat salah satu merasa tidak nyaman. Jangan sampai muncul pemikiran bahwa gaji lebih besar berarti kekuasaan jadi tak berbatas.</p>
<p>Kadang kala, membiarkan suami membuat keputusan penting dalam rumah tangga merupakan tindakan yang bijak. Biarkan suami tetap menjalankan fungsinya sebagai kepala rumah tangga.</p>
<p><strong>5. Abaikan saja</strong><br />
Karier istri yang lebih cemerlang dari suami tak jarang menimbulkan suara sumbang dari lingkungan. Lingkungan di sini bisa berarti lingkungan keluarga maupun lingkungan pekerjaan, apalagi bila suami ternyata lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah.</p>
<p>Tak mudah memang menghadapi situasi seperti itu. Namun, akan lebih baik bila pasangan suami-istri melihat kembali pada tujuan yang ingin dicapai. Semua kerja keras yang dilakukan semata-mata demi keutuhan rumah tangga. Abaikan saja suara-suara sumbang yang menganggap apa yang Anda jalani bertentangan dengan tradisi. Jadikan cobaan ini sebagai ujian agar ikatan pernikahan jadi lebih kuat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agushw.banjarbaru.net/2009/04/jika-penghasilan-istri-lebih-besar-dari-suami.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Air mata seorang wanita</title>
		<link>http://agushw.banjarbaru.net/2009/02/air-mata-seorang-wanita.html</link>
		<comments>http://agushw.banjarbaru.net/2009/02/air-mata-seorang-wanita.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Jan 2009 16:47:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus_HW</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[psikology]]></category>

		<category><![CDATA[curhat]]></category>

		<category><![CDATA[perempuan]]></category>

		<category><![CDATA[senjata wanita]]></category>

		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agushw.banjarbaru.net/?p=166</guid>
		<description><![CDATA[Air mata wanita bukanlah suatu kelemahan, tapi itu suatu jalan yang diberikan Allah kepada wanita untuk menstabilkan emosinya ketika emosinya sedang memuncak.
Sama halnya dengan laki-laki jika emosi sudah memuncak maka dia akan memukul atau bertarung dengan orang yang buat dia emosi, atau meninggalkan tempat yang membuatnya emosi menuju tempat yang sepi untuk menyendiri dan ga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="ln0">Air mata wanita bukanlah suatu kelemahan, tapi itu suatu jalan yang diberikan Allah kepada wanita untuk menstabilkan emosinya ketika emosinya sedang memuncak.</div>
<div>Sama halnya dengan laki-laki jika emosi sudah memuncak maka dia akan memukul atau bertarung dengan orang yang buat dia emosi, atau meninggalkan tempat yang membuatnya emosi menuju tempat yang sepi untuk menyendiri dan ga boleh ada orang yang mengganggunya. Nah kalau di wanita caranya beda, yaitu dengan menangis.</div>
<p><script type="text/javascript"><!--
                var curDiv = document.getElementById('ln0');
                curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);
                var links = curDiv.getElementsByTagName('a');
                for(var i = links.length; i &gt;= 0;  i) {
                    if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";
                }</p>
<p>// --></script> <script type="text/javascript"><!--
                var curDiv = document.getElementById('ln1');
                curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);
                var links = curDiv.getElementsByTagName('a');
                for(var i = links.length; i &gt;= 0;  i) {
                    if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";
                }</p>
<p>// --></script></p>
<div id="ln2">Curhat merupakan cara lain wanita untuk menenangkan atau menstabilkan emosinya. Ketika wanita kena masalah, dia akan cenderung mencari orang yang dia percayai untuk bercurhat masalah yang sedang dia hadapi. Dengan kita mendengarkan curhatannya, berarti kita sudah berhasil membantu dia mengatasi sebagian besar masalahnya. sebenarnya ketika dia kena masalahnya, dia itu sudah tahu jalan keluarnya, tapi karena masih emosi, solusi itu seolah-olah tidak muncul di pikirannya. Nah setelah curhat pada orang yang dia percayai dan emosinya mulai stabil, barulah solusi yang memang sudah ada di otaknya nampak dengan jelas di pikirannya.</div>
<div></div>
<p><script type="text/javascript"><!--
                var curDiv = document.getElementById('ln2');
                curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);
                var links = curDiv.getElementsByTagName('a');
                for(var i = links.length; i &gt;= 0;  i) {
                    if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";
                }</p>
<p>// --></script> <script type="text/javascript"><!--
                var curDiv = document.getElementById('ln3');
                curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);
                var links = curDiv.getElementsByTagName('a');
                for(var i = links.length; i &gt;= 0;  i) {
                    if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";
                }</p>
<p>// --></script></p>
<div id="ln4">Kesalahan terbesar laki-laki yang sering tidak dirasakan adalah, ketika wanita curhat dia malah banyak berkomentar atau ngasih solusi yang belum dibutuhkan wanita. Sabarlah dalam mendengarkan curhatan wanita samapai dia bertanya tentang pendapat kita atau sampai dia bertanya solusi yang tetap terhadap masalahnya menurut kita, baru setelah itu kita berkomentar. Biasanya kalau kita berkomentar sebelum dia minta dikomentari, wanita akan merasa bahwa kita ga mengerti perasaannya, dan dia jadi kecewa.</div>
<p><script type="text/javascript"><!--
                var curDiv = document.getElementById('ln4');
                curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);
                var links = curDiv.getElementsByTagName('a');
                for(var i = links.length; i &gt;= 0;  i) {
                    if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";
                }</p>
<p>// --></script> <script type="text/javascript"><!--
                var curDiv = document.getElementById('ln5');
                curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);
                var links = curDiv.getElementsByTagName('a');
                for(var i = links.length; i &gt;= 0;  i) {
                    if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";
                }
// --></script>Ketika sedang bercurhat, yang dibutuhkan wanita adalah orang yang mau mendengarkan curhatannya, bukan orang yang punya seribu komentar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agushw.banjarbaru.net/2009/02/air-mata-seorang-wanita.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Untukmu Sahabatku</title>
		<link>http://agushw.banjarbaru.net/2009/01/untukmu-sahabatku.html</link>
		<comments>http://agushw.banjarbaru.net/2009/01/untukmu-sahabatku.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jan 2009 11:36:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus_HW</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[cerita sekilas]]></category>

		<category><![CDATA[Because of You]]></category>

		<category><![CDATA[Keith Martin]]></category>

		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agushw.banjarbaru.net/?p=158</guid>
		<description><![CDATA[Because of you, my life has changed, thank you for the love and the joy you bring
Because of you, I feel no shame , I&#8217;ll tell the world it&#8217;s because of you
Untaian bait lagu ini enak sekali didengarnya lewat alunan suaranya yang merdu&#8230;kala itu awal dari sebuah persahabatan yang terjalin. Dia sosok orang yang suka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Because of you, my life has changed, thank you for the love and the joy you bring<br />
Because of you, I feel no shame , I&#8217;ll tell the world it&#8217;s because of you</p></blockquote>
<p>Untaian bait lagu ini enak sekali didengarnya lewat alunan suaranya yang merdu&#8230;kala itu awal dari sebuah persahabatan yang terjalin. Dia sosok orang yang suka bekerja keras&#8230;.walaupun dia anak tunggal&#8230;dia tidak mengharapkan uang dari oranmg tuanya. Semua biaya kuliah&#8230;bayar kost&#8230;biaya makan&#8230;semua dia bayar lewat hasil jerih payahnya melalui suara merdunya. Tak jarang dia harus kejar-kejaran waktu dengan waktukuliahnya dan setumpuk tugas-tugas kuliahnya kala itu.</p>
<p><span id="more-158"></span></p>
<p>Aku salut denganmu Sahabat&#8230;.</p>
<p>Terakhir aku dengar kabarnya sudah bekerja di salah satu perusahaan Finance di Surabaya&#8230;.</p>
<p>Sekarang aku tak tahu dimana kau Sahabat&#8230;.semua kontak sudah non aktif lagi&#8230;</p>
<blockquote><p><strong>KEITH MARTIN - Because Of You</strong></p>
<p>Look, why don&#8217;t you play that song you played for me yesterday?<br />
Oh ok yeah, that song because of you, cool<br />
This is a song called because of you&#8230;written because of you&#8230;here we go</p>
<p>[Verse 1]:<br />
&#8230;oh yah, oh yah&#8230;<br />
If ever you wondered if you touched my soul yes you do<br />
Since I met you I&#8217;m not the same<br />
You bring life to everything I do<br />
Just the way you say hello<br />
With one touch I can&#8217;t let go<br />
Never thought I&#8217;d fall in love with you&#8230;</p>
<p>[Chorus:]<br />
Because of you, my life has changed, thank you for the love and joy you bring<br />
Because of you, I feel no shame , I&#8217;ll tell the world it&#8217;s because of you</p>
<p>[Verse 2:]<br />
Sometimes I get lonely and all I gotta do is think of you<br />
You captured something inside of me<br />
You make all of my dreams come true<br />
It&#8217;s not enough that you love me for me<br />
You reached inside and touched me eternally<br />
I love you best explains how I feel for you&#8230;</p>
<p>[Chorus:]<br />
Because of you, my life has changed, thank you for the love and the joy you bring<br />
Because of you, I feel no shame , I&#8217;ll tell the world it&#8217;s because of you</p>
<p>[Bridge:]<br />
The magic in your eyes<br />
True love I can&#8217;t deny<br />
When you hold me I just lose control<br />
I want you to know that I&#8217;m never letting go<br />
You mean so much to me I want the world to see,<br />
It&#8217;s because of you</p>
<p>[Chorus:]<br />
Because of you, my life has changed, thank you for the love and the joy you bring<br />
Because of you, I feel no shame , I&#8217;ll tell the world it&#8217;s because of you<br />
My life has changed thank you for the love and the joy you bring<br />
Because of you, I feel no shame, I&#8217;ll tell the world it&#8217;s because of you&#8230;</p>
<p>Because of you</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agushw.banjarbaru.net/2009/01/untukmu-sahabatku.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>perjalanan hidup seorang bapak</title>
		<link>http://agushw.banjarbaru.net/2009/01/perjalanan-hidup-seorang-bapak.html</link>
		<comments>http://agushw.banjarbaru.net/2009/01/perjalanan-hidup-seorang-bapak.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Jan 2009 03:36:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus_HW</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[cerita sekilas]]></category>

		<category><![CDATA[Anak Tunggal]]></category>

		<category><![CDATA[Bapak]]></category>

		<category><![CDATA[Jilbab]]></category>

		<category><![CDATA[TKI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agushw.banjarbaru.net/?p=154</guid>
		<description><![CDATA[25 tahun yang lalu,
Inikah nasib? Terlahir sebagai menantu bukan pilihan.
Tapi aku dan Kania harus tetap menikah. Itu sebabnya kami
ada di Kantor Catatan Sipil. Wali kami pun wali hakim. Dalam
tiga puluh menit, prosesi pernikahan kami selesai. Tanpa
sungkem dan tabur melati atau hidangan istimewa d! an salam
sejahtera dari kerabat. Tapi aku masih sangat bersyukur
karena Lukman dan Naila [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>25 tahun yang lalu,</strong><br />
Inikah nasib? Terlahir sebagai menantu bukan pilihan.<br />
Tapi aku dan Kania harus tetap menikah. Itu sebabnya kami<br />
ada di Kantor Catatan Sipil. Wali kami pun wali hakim. Dalam<br />
tiga puluh menit, prosesi pernikahan kami selesai. Tanpa<br />
sungkem dan tabur melati atau hidangan istimewa d! an salam<br />
sejahtera dari kerabat. Tapi aku masih sangat bersyukur<br />
karena Lukman dan Naila mau hadir menjadi saksi. Umurku<br />
sudah menginjak seperempat abad dan Kania di bawahku..<br />
Cita-cita kami sederhana,ingin hidup bahagia.</p>
<p><strong>22 tahun yang lalu,</strong><br />
Pekerjaanku tidak begitu elit, tapi cukup untuk biaya makan<br />
keluargaku. Ya, keluargaku. Karena sekarang aku sudah punya<br />
momongan. Seorang putri, kunamai ia Kamila. Aku berharap ia<br />
bisa menjadi perempuan sempurna, maksudku kaya akan budi<br />
baik hingga dia tampak ! sempurna. Kulitnya masih merah,<br />
mungkin karena ia baru berumur seminggu. Sayang, dia tak<br />
dijenguk kakek-neneknya dan aku merasa prihatin. Aku harus<br />
bisa terima nasib kembali, orangtuaku dan orangtua Kania tak<br />
mau menerima kami.. Ya sudahlah. Aku tak berhak untuk<br />
memaksa dan aku tidak membenci mereka. Aku hanya yakin,<br />
suatu saat nanti, mereka pasti akan berubah.<br />
<span id="more-154"></span><br />
<strong>19 tahun yang lalu,</strong><br />
Kamilaku gesit dan lincah. Dia sekarang sedang senang<br />
berlari-lari, melompat-lompat atau meloncat dari meja ke<br />
kursi lalu dari kursi ke lantai kemudian berteriak<br />
&#8216;Horeee, Iya bisa terbang&#8217;. Begitulah dia<br />
memanggil namanya sendiri, Iya. Kembang senyumnya selalu<br />
merekah seperti mawar di pot halaman rumah. Dan Kania tak<br />
jarang berteriak, &#8216;Iya sayaaang,&#8217; jika sudah<br />
terdengar suara &#8216;Prang&#8217;. Itu artinya, ada yang<br />
pecah, bisa vas bunga, gelas, piring, atau meja kaca..<br />
Terakhir cermin rias ibunya yang pecah. Waktu dia melompat<br />
dari tempat tidur ke lantai, boneka kayu yang dipegangnya<br />
terpental. Dan dia cuma bilang &#8216;Kenapa semua kaca di<br />
rumah ini selalu pecah, Ma?&#8217;</p>
<p><strong>18 tahun yang lalu,</strong><br />
Hari ini Kamila ulang tahun. Aku sengaja pulang lebih awal<br />
dari pekerjaanku agar bisa membeli hadiah dulu. Kemarin<br />
lalu dia merengek minta dibelikan bola. Kania tak<br />
membelikannya karena tak mau anaknya jadi tomboy apalagi<br />
jadi pemain bola seperti yang sering diucapkannya.<br />
&#8216;Nanti kalau sudah besar, Iya mau jadi pemain<br />
bola!&#8217; tapi aku tidak suka dia menangis terus minta<br />
bola, makanya kubelikan ia sebuah bola. Paling tidak aku<br />
bisa punya lawan main setiap sabtu sore. Dan seperti yang<br />
sudah kuduga, dia bersorak kegirangan waktu kutunjukkan bola<br />
itu. &#8216;Horee, Iya jadi pemain bola.&#8217;<br />
<strong><br />
17 Tahun yang lalu,</strong><br />
Iya, Iya. Bapak kan sudah bilang jangan main bola di jalan.<br />
Mainnya di rumah aja. Coba kalau ia nurut, Bapak kan tidak<br />
akan seperti ini. Aku tidak tahu bagaimana Kania bisa tidak<br />
tahu Iya menyembunyikan bola di tas sekolahnya. Yang aku<br />
tahu, hari itu hari sabtu dan aku akan menjemputnyanya dari<br />
sekolah. Kulihat anakku sedang asyik menendang bola<br />
sepanjang jalan pulang dari sekolah dan ia semakin ketengah<br />
jalan. Aku berlari menghampirinya, rasa khawatirku<br />
mengalahkan kehati-hatianku dan &#8216;Iyaaaa&#8217;. Sebuah<br />
truk pasir telak menghantam tubuhku, lindasan ban besarnya<br />
berhenti di atas dua kakiku. Waktu aku sadar, dua kakiku<br />
sudah diamputasi. Ya Tuhan, bagaimana ini. Bayang-bayang<br />
kelam menyelimuti pikiranku, tanpa kaki, bagaimana aku<br />
bekerja sementara<br />
pekerjaanku mengantar barang dari perusahaan ke rumah<br />
konsumen. Kulihat Kania menangis sedih, bibir cuma berkata<br />
&#8216;Coba kalau kamu tak belikan ia bola!&#8217;</p>
<p><strong>15 tahun yang lalu,</strong><br />
Perekonomianku morat marit setelah kecelakaan. Uang<br />
pesangon habis untuk ke rumah sakit dan uang tabungan<br />
menguap jadi asap dapur. Kania mulai banyak mengeluh dan Iya<br />
mulai banyak dibe! ntak. Aku hanya bisa membelainya. Dan<br />
bilang kalau Mamanya sedang sakit kepala makanya cepat<br />
marah. Perabotan rumah yang bisa dijual sudah habis. Dan aku<br />
tak bisa berkata apa-apa waktu Kania hendak mencari ke luar<br />
negeri. Dia ingin penghasilan yang lebih besar untuk<br />
mencukupi kebutuhan Kamila.. Diizinkan atau tidak diizinkan<br />
dia akan tetap pergi. Begitu katanya. Dan akhirnya dia<br />
memang pergi ke Malaysia .</p>
<p><strong>13 tahun yang lalu,</strong><br />
Setahun sejak kepergian Kania, keuangan rumahku sedikit<br />
membaik tapi itu hanya setahun. Setelah itu tak terdengar<br />
kabar lagi. Aku harus mempersiapkan uang untuk Kamila masuk<br />
SMP. Anakku memang pintar dia loncat satu tahun di SD-nya.<br />
Dengan segala keprihatinan kupaksakan agar Kamila bisa<br />
melanjutkan sekolah. aku bekerja serabutan, mengerjakan<br />
pekerjaan yang bisa kukerjakan dengan dua tanganku. Aku<br />
miris, menghadapi kenyataan. Menyaksikan anakku yang tumbuh<br />
remaja dan aku tahu dia ingin menikmati dunianya. Tapi<br />
keadaanku mengurungnya dalam segala kekurangan. Tapi aku<br />
harus kuat. Aku harus tabah untuk mengajari Kamila hidup<br />
tegar.</p>
<p><strong>10 tahun yang lalu,</strong><br />
Aku sedih, semua tetangga sering mengejek kecacatanku.<br />
Dan Kamila hanya sanggup berlari ke dalam rumah lalu<br />
sembunyi di dalam kamar. Dia sering jadi bulan-bulanan<br />
hinaan teman sebayanya. Anakku cantik, seperti ibunya.<br />
&#8216;Biar cantik kalo kere ya kelaut aje.&#8217; Mungkin<br />
itu kata-kata yang sering kudengar. Tapi anakku memang sabar<br />
dia tidak marah walau tak urung menangis juga.<br />
&#8216;Sabar ya, Nak!&#8217; hiburku.<br />
&#8216;Pak, Iya pake jilbab aja ya, biar tidak<br />
diganggu!&#8217; pintanya padaku. Dan aku menangis. Anakku<br />
maafkan bapakmu, hanya itu suara yang sanggup kupendam dalam<br />
hatiku. Sejak hari itu, anakku tak pernah lepas dari<br />
kerudungnya. Dan aku bahagia. Anakku, ternyata kamu sudah<br />
semakin dewasa. Dia selalu tersenyum padaku. Dia tidak<br />
pernah menunjukkan<br />
kekecewaannya padaku karena sekolahnya hanya terlambat di<br />
bangku SMP.!<br />
<strong><br />
7 tahun yang lalu,</strong><br />
Aku merenung seharian. Ingatanku tentang Kania, istriku,<br />
kembali menemui pikiranku. Sudah bertahun-tahun tak kudengar<br />
kabarnya. Aku tak mungkin bohong pada diriku sendiri, jika<br />
aku masih menyimpan rindu untuknya. Dan itu pula yang<br />
membuat aku takut. Semalam Kamila bilang dia ingin menjadi<br />
TKI ke Malaysia . Sulit baginya mencari pekerjaan di sini<br />
yang cuma lulusan SMP.. Haruskah aku melepasnya karena<br />
alasan ekonomi. Dia bilang aku sudah tua, tenagaku mulai<br />
habis dan dia ingin agar aku beristirahat. Dia berjanji akan<br />
rajin mengirimi aku uang dan menabung untuk modal. Setelah<br />
itu dia akan pulang, menemaniku kembali dan membuka usaha<br />
kecil-kecilan. Seperti waktu lalu, kali ini pun aku tak<br />
kuasa untuk menghalanginya. Aku hanya berdoa agar Kamilaku<br />
baik-baik saja.</p>
<p><strong>4 tahun lalu,</strong><br />
Kamila tak pernah telat ! mengirimi aku uang. Hampir tiga<br />
tahun dia di sana . Dia bekerja sebagai seorang pelayan di<br />
rumah seorang nyonya. Tapi Kamila tidak suka dengan<br />
laki-laki yang disebutnya datuk. Matanya tak pernah siratkan<br />
sinar baik. Dia juga dikenal suka perempuan. Dan nyonya itu<br />
adalah istri mudanya yang keempat. Dia bilang dia sudah<br />
ingin pulang. Karena akhir-akhir ini dia sering diganggu..<br />
Lebaran tahun ini dia akan berhenti bekerja. Itu yang kubaca<br />
dari suratnya. Aku senang mengetahui itu dan selalu menunggu<br />
hingga masa itu tiba. Kamila bilang, aku jangan pernah lupa<br />
salat dan kalau kondisiku sedang baik usahakan untuk salat<br />
tahajjud. Tak perlu memaksakan untuk puasa sunnah yang pasti<br />
setiap bulan Ramadhan aku harus berusaha sebisa mungkin<br />
untuk kuat hingga beduk manghrib berbunyi. Kini anakku lebih<br />
pandai menasihati daripada aku. Dan aku bangga.</p>
<p><strong>3 tahun 6 bulan yang lalu,</strong><br />
Inikah badai? Aku mendapat surat dari kepolisian<br />
pemerintahan Malaysia , kabarnya anakku ditahan. Dan dia<br />
diancam hukuman mati, karena dia terbukti membunuh suami<br />
majikannya. Sesak dadaku mendapat kabar ini. Aku menangis,<br />
aku tak percaya. Kamilaku yang lemah lembut tak mungkin<br />
membunuh. Lagipula kenapa dia harus membunuh. Aku meminta<br />
bantuan hukum dari Indonesia untuk menyelamatkan anakku dari<br />
maut. Hampir setahun aku gelisah menunggu kasus anakku<br />
selesai. Tenaga tuaku terkuras dan airmataku habis. Aku<br />
hanya bisa memohon agar anakku tidak dihukum mati andai dia<br />
memang bersalah.</p>
<p><strong>2 tahun 6 bulan yang lalu,</strong><br />
Akhirnya putusan itu jatuh juga, anakku terbukti bersalah.<br />
Dan dia harus menjalani ! hukuman gantung sebagai<br />
balasannya. Aku tidak bisa apa-apa selain menangis<br />
sejadinya. Andai aku tak izinkan dia pergi apakah nasibnya<br />
tak akan seburuk ini? Andai aku tak belikan ia bola apakah<br />
keadaanku pasti lebih baik? Aku kini benar-benar sendiri.<br />
Wahai Allah kuatkan aku.</p>
<p>Atas permintaan anakku aku dijemput terbang ke Malaysia .<br />
Anakku ingin aku ada di sisinya disaat terakhirnya.<br />
Lihatlah, dia kurus sekali. Dua matanya sembab dan bengkak.<br />
Ingin rasanya aku berlari tapi apa daya kakiku tak ada.. Aku<br />
masuk ke dalam ruangan pertemuan itu, dia berhambur ke<br />
arahku, memelukku erat, seakan tak ingin melepaskan aku.</p>
<p>&#8216;Bapak, Iya Takut!&#8217; aku memeluknya lebih erat<br />
lagi. Andai bisa ditukar, aku ingin menggantikannya.<br />
&#8216;Kenapa, Ya, kenapa kamu membunuhnya sayang?&#8217;<br />
&#8216;Lelaki tua itu ingin Iya tidur dengannya, Pak. Iya<br />
tidak mau. Iya dipukulnya. Iya takut, Iya dorong dan dia<br />
jatuh dari jendela kamar. Dan dia mati. Iya tidak salah kan<br />
, Pak!&#8217; Aku perih mendengar itu. Aku iba dengan nasib<br />
anakku. Masa mudanya hilang begitu saja. Tapi aku bisa<br />
apa, istri keempat lelaki tua itu menuntut agar anakku<br />
dihukum mati. Dia kaya dan lelaki itu juga orang terhormat.<br />
Aku sudah berusaha untuk memohon keringanan bagi anakku,<br />
tapi menemuiku pun ia tidak mau. Sia-sia aku tinggal di<br />
Malaysia selama enam bulan untuk memohon hukuman pada wanita<br />
itu.</p>
<p><strong>2 tahun yang lalu,</strong><br />
Hari ini, anakku akan dihukum gantung. Dan wanita itu akan<br />
hadir melihatnya. Aku mendengar dari petugas jika dia sudah<br />
datang dan ada di belakangku. Tapi aku tak ingin melihatnya.<br />
Aku melihat isyarat tangan dari hakim di sana . Petugas itu<br />
membuka papan yang diinjak anakku. Dan &#8216;blass&#8217;<br />
Kamilaku kini tergantung. Aku tak bisa lagi menangis.<br />
Setelah yakin suda! h mati, jenazah anakku diturunkan<br />
mereka, aku mendengar langkah kaki menuju jenazah anakku.<br />
Dia menyibak kain penutupnya dan tersenyum sinis. Aku<br />
mendongakkan kepalaku, dan dengan mataku yang samar oleh air<br />
mata aku melihat garis wajah yang kukenal.<br />
&#8216;Kania?&#8217;<br />
&#8216;Mas Har, kau &#8230; !&#8217;<br />
&#8216;Kau &#8230; kau bunuh anakmu sendiri, Kania!&#8217;<br />
&#8216;Iya? Dia..dia . Iya?&#8217; serunya getir menunjuk<br />
jenazah anakku.<br />
&#8216;Ya, dia Iya kita. Iya yang ingin jadi pemain bola<br />
jika sudah besar.&#8217;<br />
&#8216;Tidak &#8230; tidaaak &#8230; &#8216; Kania berlari ke arah<br />
jenazah anakku. Diguncang tubuh kaku itu sambil menjerit<br />
histeris. Seorang petugas menghampiri Kania dan memberikan<br />
secarik kertas yang tergenggam di tangannya waktu dia<br />
diturunkan dari tiang gantungan. Bunyinya &#8216;Terima kasih<br />
Mama.&#8217; Aku baru sadar, kalau dari dulu Kamila sudah<br />
tahu wanita itu ibunya.</p>
<p><strong>Setahun lalu,</strong><br />
Sejak saat itu istriku gila. Tapi apakah dia masih istriku.<br />
Yang aku tahu, aku belum pernah menceraikannya. Terakhir<br />
kudengar kabarnya dia mati bunuh diri. Dia ingin dikuburkan<br />
di samping kuburan anakku, Kamila. Kata pembantu yang<br />
mengantarkan<br />
jenazahnya padaku, dia sering berteriak, &#8216;Iya<br />
sayaaang, apalagi yang pecah, Nak.&#8217; Kamu tahu Kania,<br />
kali ini yang pecah adalah hatiku.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agushw.banjarbaru.net/2009/01/perjalanan-hidup-seorang-bapak.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Batavia Airline mendarat darurat</title>
		<link>http://agushw.banjarbaru.net/2009/01/batavia-airline-mendarat-darurat.html</link>
		<comments>http://agushw.banjarbaru.net/2009/01/batavia-airline-mendarat-darurat.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Jan 2009 17:28:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus_HW</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[cerita sekilas]]></category>

		<category><![CDATA[Batavia airlines]]></category>

		<category><![CDATA[KNKT]]></category>

		<category><![CDATA[Pesawat Terbang]]></category>

		<category><![CDATA[Transportasi Udara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agushw.banjarbaru.net/?p=147</guid>
		<description><![CDATA[Pada hari Kamis kemarin (tanggal 15 januari 2009) sempat membuat perasaanku gak karuan,  pasalnya pada hari itu adik ku yang sedang menikmati masa liburnya setelah menempuh ujian final test dikampusnya akan pulang ke banjarbaru.
Pagi-pagi  sekitar jam 7 aku mendapatkan sms dari adikku mengabarkan bahwa dia sudah ada di bandara Juanda Surabaya dan sudah akan menaiki [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada hari Kamis kemarin (<span style="text-decoration: line-through;">tanggal 15 januari 2009</span>) sempat membuat perasaanku gak karuan,  pasalnya pada hari itu adik ku yang sedang menikmati masa liburnya setelah menempuh ujian final test <a href="http://www.umm.ac.id" target="_blank">dikampusnya</a> akan pulang ke banjarbaru.<br />
Pagi-pagi  sekitar jam 7 aku mendapatkan sms dari adikku mengabarkan bahwa dia sudah ada di bandara Juanda Surabaya dan sudah akan menaiki pesawat yang akan mengantarkannya ke Bandara Syamsudin Noor. Setelah selang beberapa waktu, kembali aku mendapatkan sms lagi mengabarkan bahwa dia sudah berada di dalam pesawat dan segera take off (sesaat setelah itu handphonenya pun dimatikan karna akan menggangu sistem navigasi pesawat).</p>
<p><span id="more-147"></span><br />
Kemudian sekitar 20 menit kemudian aku bergegas berangkat ke bandara<br />
untuk menjemput adik ku di bandara. Sesampainya dibandara aku melihat ke layar informasi kedatangan dan melihat jadwal kedatangan pesawat yang ditumpangi adikku bersama teman-temannya, aha&#8230;tinggal 15 menit lagi<br />
<a href="http://www.batavia-air.co.id/" target="_blank">pesawatnya</a> akan landing di Bandara Syamsudin Noor&#8230;Tak berapa lama tiba-tiba HPku berbunyi dan betapa kagetnya aku karna yang menelpon itu dari ponsel adikku, dia mengabarkan bahwa pesawat <a href="http://www.batavia-air.co.id/" target="_blank">Batavia Airlines</a> yang dia tumpangi terpaksa memutar balik arah dan mendarat kembali secara darurat di Bandara Juanda Surabaya, padahal saat itu posisi pesawat sudah berada diatas langit Kalimantan.<br />
Alasan pendaratan darurat itu dari pihak <a href="http://www.batavia-air.co.id/" target="_blank">Batavia Airlines</a> menurut informasi yang aku dapat dari adikku bahwa telah terjadi kerusakan/gangguan pada sistem tekanan udara dan temperatur pada mesin pesawat,  akibat dari kerusakan itu mengakibatkan terjadinya goncangan yang keras dan mengeluarkan suara desingan yang memekakkan telinga hingga masker oksigen pun keluar.</p>
<p>Suasana penumpang pada saat itu terlihat panik, ada yang berteriak&#8230;ada yang membaca surah Yassin&#8230;ada yang meraung menangis&#8230;ada yang menciumi anak balitanya&#8230;dll. Dan akhirnya pesawat didaratkan kembali dengan selamat secara darurat.<br />
Sesampainya diterminal penumpang adikku terus mencari informasi kepastian kapan akan diberangkatkan lagi, dan ternyata terjadi simpang siur informasi dari pihak maskapai dan tidak ada kepastian yang pasti. Akhirnya kutelpon adikku untuk meminta ganti rugi kepada pihak <a href="http://www.batavia-air.co.id/" target="_blank">Batavia Airlines</a> dengan cara ganti flight dengan maskapai lain, dan ternyata pihal <a href="http://www.batavia-air.co.id/" target="_blank">Batavia airlines</a> hanya sanggup memenuhi ganti rugi dengan ganti uang seharga nominal yang tertera pada tiket.<br />
Dan akhirnya adikku bisa landing dengan <a href="http://www.mandalaair.com/" target="_blank">maskapai lain</a> dalam keadaan selamat, yang tadinya seharusnya pada pukul 09.15 wita adikku sudah berada di bandara Syamsuddin Noor dengan menggunakan <a href="http://www.batavia-air.co.id/" target="_blank">pesawat rongsokan</a> dan baru bisa sampai pada pukul 16.55 wita.<br />
yah&#8230;.syukurlah dia bisa pulang dalam keadaan selamat dan menikmati liburannya dikampung halaman.</p>
<p>Saya mengutuk kepada semua maskapai penerbangan yang hanya mementingkan sisi komersial semata tanpa memperhatikan keselamatan pengguna jasa transportasi udara</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agushw.banjarbaru.net/2009/01/batavia-airline-mendarat-darurat.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Surat Tilang</title>
		<link>http://agushw.banjarbaru.net/2009/01/surat-tilang.html</link>
		<comments>http://agushw.banjarbaru.net/2009/01/surat-tilang.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Jan 2009 06:16:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus_HW</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Lapsus]]></category>

		<category><![CDATA[Orak Arik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agushw.banjarbaru.net/?p=136</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu yang lalu, waktu saya berkunjung ke Kota Apel (kota dimana saya pernah kuliah dulu dan sekarang gantian adik saya yang kuliah dikota ini) sekembalinya berbelanja kebutuhan, saya dan adik saya pulang dengan menggunakan taksi. Ada adegan yang menarik ketika saya menumpang taksi tersebut, yaitu ketika sopir taksi hendak ditilang oleh polisi. Sempat teringat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu yang lalu, waktu saya berkunjung ke <a title="Kota Apel" href="http://www.malangkota.go.id" target="_blank">Kota Apel</a> (<span style="text-decoration: line-through;">kota dimana saya pernah kuliah dulu dan sekarang gantian adik saya yang kuliah dikota ini</span>) sekembalinya berbelanja kebutuhan, saya dan adik saya pulang dengan menggunakan taksi. Ada adegan yang menarik ketika saya menumpang taksi tersebut, yaitu ketika sopir taksi hendak ditilang oleh polisi. Sempat teringat oleh saya dialog antara polisi dan sopir taksi.</p>
<p><span id="more-136"></span></p>
<p>Polisi_1      : Selamat siang mas, bisa lihat SIM dan STNK?</p>
<p>Sopir          : Baik Pak&#8230;</p>
<p>Polisi_1     : Mas tau..kesalahannya apa?</p>
<p>Sopir          : Gak pak</p>
<p>Polisi_1     : Ini nomor polisinya gak seperti seharusnya (<em>sambil nunjuk ke</em></p>
<p style="padding-left: 60px;"><em> plat nomor taksi yg memang gak standar</em>, <em> sambil langsung </em></p>
<p style="padding-left: 60px;"><em> mengeluarkan jurus sakti mengambil buku tilang?lalu menulis </em></p>
<p style="padding-left: 60px;"><em> dengan sigap)</em></p>
<p>Sopir         : Pak jangan ditilang deh?  wong plat aslinya udah gak tau ilang</p>
<p style="padding-left: 60px;">kemana?  kalo ada pasti saya pasang</p>
<p>Polisi_1    : Sudah! saya tilang saja! kamu tau gak banyak mobil curian</p>
<p style="padding-left: 60px;">sekarang? (<em>dengan nada keras !!</em> )</p>
<p>Sopir         : (<em>Dengan nada keras juga</em> ) Kok gitu! taksi saya kan Ada STNK nya</p>
<p style="padding-left: 60px;">pak , ini kan bukan mobil curian!</p>
<p>Polisi_1   : Kamu itu kalo di bilangin kok ngotot (<em>dengan nada lebih tegas</em>)</p>
<p style="padding-left: 60px;">kamu terima aja surat tilangnya (<em>sambil menyodorkan surat</em></p>
<p style="padding-left: 60px;"><em> tilang warna <span style="color: #ff0000;">MERAH</span></em>)</p>
<p>Sopir         : Maaf pak saya gak mau yang warna <span style="color: #ff0000;">MERAH</span> suratnya.  Saya mau</p>
<p style="padding-left: 60px;">yg warna <span style="color: #0000ff;">BIRU</span> aja</p>
<p>Polisi_1    : Hey&#8230;! (<em>dengan nada tinggi</em>) kamu tahu gak sudah 10 Hari ini</p>
<p style="padding-left: 60px;">Form <span style="color: #0000ff;">BIRU</span> itu gak berlaku!</p>
<p>Sopir         : Sejak kapan pak Form <span style="color: #0000ff;">BIRU</span> surat tilang gak berlaku?</p>
<p>Polisi_1    : Inikan dalam rangka OPERASI, kamu itu gak boleh minta form</p>
<p style="padding-left: 60px;"><span style="color: #0000ff;">BIRU</span>.  Dulu kamu bisa minta form<span style="color: #0000ff;"> BIRU</span>, tapi sekarang ini kamu</p>
<p style="padding-left: 60px;">Gak bisa.  Kalo kamu gak kamu ngomong sama komandan saya</p>
<p style="padding-left: 60px;">(<em>dengan nada keras dan ngotot</em>)</p>
<p>Sopir         : Baik pak, kita ke komandan Bapak aja sekalian (<em>dengan nada</em></p>
<p style="padding-left: 60px;"><em> nantangin tuh polisi</em>) ( <em>Dalam hati saya, berani betul sopir taksi</em></p>
<p style="padding-left: 60px;"><em> ini )</em></p>
<p>Polisi_1    : (<em>Dengan muka bingung</em>) Kamu ini melawan petugas!?</p>
<p>Sopir         : Siapa yg melawan!? Saya kan cuman minta Form <span style="color: #0000ff;">BIRU</span>, Bapak kan</p>
<p style="padding-left: 60px;">yang gak mau ngasih</p>
<p>Polisi_1   : Kamu jangan macam-macam yah! saya bisa kenakan pasal</p>
<p style="padding-left: 60px;">melawan petugas!</p>
<p>Sopir         : Saya gak melawan!? Kenapa bapak bilang Form <span style="color: #0000ff;">BIRU</span> udah gak</p>
<p style="padding-left: 60px;">berlaku? Gini aja pak saya foto bapak aja deh? kan bapak yg bilang</p>
<p style="padding-left: 60px;">form <span style="color: #0000ff;">BIRU</span> gak berlaku (<em>sambil ngambil HP yang ada kameranya</em>)</p>
<p style="padding-left: 60px;">(<em>Wah&#8230;. wah hebat betul nih sopir , berani, cerdas dan trendy.</em></p>
<p style="padding-left: 60px;"><em> terbukti dia mengeluarkan hpnya yang ada berkamera)</em></p>
<p>Polisi_1    : Hey! Kamu bukan wartawankan? ? Kalo kamu foto saya, saya bisa</p>
<p style="padding-left: 60px;">kandangin (<em>sambil berlalu</em>)<em>. (Kemudian si sopir taksi itupun </em></p>
<p style="padding-left: 60px;"><em> mengejar itu polisi dan sudah siap melepaskan shoot pertama&#8230;)</em></p>
<p style="padding-left: 60px;"><em> (tiba-tiba dihalau oleh seorang anggota polisi lagi )</em></p>
<p>Polisi_2    : Mas, anda gak bisa foto petugas sepeti itu</p>
<p>Sopir          : Si bapak (<em>polisi_1</em>)itu yg bilang form <span style="color: #0000ff;">BIRU</span> gak bisa dikasih</p>
<p style="padding-left: 60px;">(<em>sambil tunjuk polisi yg menilangnya</em>)  <em>lalu si polisi_2 itu menghampiri </em></p>
<p style="padding-left: 60px;"><em>polisi_1 yang menilang tadi, ada pembicaraan singkat terjadi</em></p>
<p style="padding-left: 60px;"><em> antara polisi_2 yang menghalau si sopir dan polisi_1 yang</em></p>
<p style="padding-left: 60px;"><em> menilang. Akhirnya polisi_2 yg menghalau tadi menghampiri si</em></p>
<p style="padding-left: 60px;"><em> sopir taksi</em></p>
<p>Polisi_2    : Mas mana surat tilang yang <span style="color: #ff0000;">MERAH</span> nya? (<em>sambil meminta</em>)</p>
<p>Sopir          : Gak sama saya pak? Masih sama temen bapak tuh.(sambil</p>
<p style="padding-left: 60px;">menunjuk kearah polisi_1) (polisi_ 2 memanggil polisi_1 yang</p>
<p style="padding-left: 60px;">menilang)</p>
<p>Polisi_1    : Sini tak kasih surat yang <span style="color: #0000ff;">BIRU</span> (<em>dengan nada kesal</em>)</p>
<p style="padding-left: 60px;"><em> Lalu polisi yang nilang tadi menulis nominal denda sebesar</em></p>
<p style="padding-left: 60px;"><em> Rp 30.600. </em> sambil berkata: nih kamu bayar sekarang ke BRI ? lalu</p>
<p style="padding-left: 60px;">kamu ambil lagi SIM kamu disini, saya tunggu?..</p>
<p>Sopir          : (Yes!!) Ok pak ..gitu dong kalo gini dari tadi kan enak.</p>
<p style="padding-left: 60px;"><em>Kemudian si sopir taksi segera menjalankan kembali taksinya</em></p>
<p style="padding-left: 60px;"><em> sambil berkata pada saya</em>, Mas .. maaf kita ke ATM sebentar ya &#8230;</p>
<p style="padding-left: 60px;">Mau transfer uang tilang.</p>
<p>Saya           : ya silakan&#8230;..</p>
<p>Sopir taksipun langsung ke ATM sambil berkata, ? ?Hatiku senang banget pak, walaupun di tilang, bisa ngasih pelajaran berharga ke</p>
<p>polisi itu. Untung saya paham macam2 surat tilang.</p>
<p>Tambahnya, Pak kalo ditilang kita berhak minta form Biru, gak perlu nunggu 2 minggu untuk sidang Jangan pernah pikir mau ngasih <strong>DUIT DAMAI</strong>. Mending bayar mahal ke negara sekalian daripada buat oknum!?</p>
<p>Dari obrolan dengan sopir taksi tersebut dapat saya infokan ke Anda sebagai berikut:</p>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">SLIP MERAH</span></strong> :berarti kita menyangkal kalau melanggar aturan Dan mau membela diri secara hukum (ikut sidang) di pengadilan setempat. Itupun di pengadilan nanti masih banyak calo, antrian panjang, Dan oknum pengadilan yang melakukan pungutan liar berupa pembengkakan nilai tilai tilang&#8230; Kalau kita tidak mengikuti sidang, dokumen tilang dititipkan di kejaksaan setempat, disinipun banyak calo dan oknum kejaksaan yang melakukan pungutan liar berupa pembengkakan nilai tilang..</p>
<p><strong><span style="color: #0000ff;">SLIP BIRU</span></strong> : berarti kita mengakui kesalahan kita dan bersedia membayar denda. Kita tinggal transfer dana via ATM ke nomer rekening tertentu (kalo gak salah norek Bank BUMN). Sesudah itu kita tinggal bawa bukti transfer untuk di tukar dengan SIM/STNK kita di kapolsek terdekat dimana kita ditilang. You know what!? Denda yang tercantum dalam KUHP Pengguna Jalan Raya tidak melebihi RP 50.000! dan dananya <strong>RESMI MASUK KE KAS NEGARA.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agushw.banjarbaru.net/2009/01/surat-tilang.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>sosok itu pudar,,,</title>
		<link>http://agushw.banjarbaru.net/2008/12/sosok-itu-pudar.html</link>
		<comments>http://agushw.banjarbaru.net/2008/12/sosok-itu-pudar.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Dec 2008 17:04:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus_HW</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Roman picisan]]></category>

		<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<category><![CDATA[sesosok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agushw.banjarbaru.net/?p=130</guid>
		<description><![CDATA[aku bertanya kepada siapa?
Luluh kaki ini tak bertumpu
Lemah jemari ini tak mampu lagi tuk menggenggam
aku tertawa&#8230;,aku terisak&#8230;,aku termenung&#8230;.
sesosok bayang abu-abu mulai pudar
ntah pudar kenapa
aku pun tak tahu&#8230;&#8230;
aku bertanya kepada siapa?
kepada langit pun tak mampu menjawab
kepada rumput pun tak dapat balasan
Entah kemana raga ini melayang
jatuh lunglai seperti kapas
berlari kabur tak tau arah
aku bertanya kepada siapa?
warna apa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>aku bertanya kepada siapa?</p>
<p>Luluh kaki ini tak bertumpu<br />
Lemah jemari ini tak mampu lagi tuk menggenggam<br />
aku tertawa&#8230;,aku terisak&#8230;,aku termenung&#8230;.</p>
<p>sesosok bayang abu-abu mulai pudar<br />
ntah pudar kenapa<br />
aku pun tak tahu&#8230;&#8230;</p>
<p>aku bertanya kepada siapa?</p>
<p>kepada langit pun tak mampu menjawab<br />
kepada rumput pun tak dapat balasan</p>
<p>Entah kemana raga ini melayang<br />
jatuh lunglai seperti kapas<br />
berlari kabur tak tau arah</p>
<p>aku bertanya kepada siapa?</p>
<p>warna apa lagi yang mendekat itu<br />
sungguh aku tak tahu&#8230;.<br />
sosok itu samar dihadapku</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agushw.banjarbaru.net/2008/12/sosok-itu-pudar.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Angka VS Huruf</title>
		<link>http://agushw.banjarbaru.net/2008/12/angka-vs-huruf.html</link>
		<comments>http://agushw.banjarbaru.net/2008/12/angka-vs-huruf.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Dec 2008 18:15:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus_HW</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Orak Arik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agushw.banjarbaru.net/?p=117</guid>
		<description><![CDATA[Angka Vs Huruf dalam Management :
Jika, nilai huruf-huruf ini kita anggap sbb :
A  B  C  D  E   F  G  H   I   J    K    L    M    N   O   P    Q    R    S   T    U   V    W   X   Y   Z
1  2  3  4   5  6  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Angka Vs Huruf dalam Management :</p>
<p>Jika, nilai huruf-huruf ini kita anggap sbb :</p>
<p>A  B  C  D  E   F  G  H   I   J    K    L    M    N   O   P    Q    R    S   T    U   V    W   X   Y   Z<br />
1  2  3  4   5  6  7   8  9  10  11 12  13  14  15 16  17  18  19  20  21 22  23  24 25 26</p>
<p>Mari kita hitung sama-sama :</p>
<p>H  A   R  D  W   O   R   K ( <strong>kerjakeras</strong> )<br />
8  1  18  4  23 15 18 11 = 98 % Only</p>
<p>K   N   O  W   L   E   D  G  E ( <strong>pengetahuan</strong> )<br />
11 14  15 23 12  5  4   7  5 = 96 % Only</p>
<p><span id="more-117"></span></p>
<p>L    O  B  B   Y   I   N  G ( <strong>pendekatan</strong> )<br />
12 15 2  2  25 9  14  7 = 86 % Only</p>
<p>L  U  C K ( <strong>keberuntungan</strong> )<br />
12 21 3 11 = 47 % Only</p>
<p>G  R  A F  T ( <strong>KORUPSI</strong> )<br />
7 18 1 6 20 = 52 % Only</p>
<p>ternyata .. semua nilai dari usaha-usaha kita di</p>
<p>atas nggak bisa mengalahkan yang satu ini:</p>
<p>A  T  T   I   T   U   D  E ( sikap/tingkah laku )<br />
1 20 20 9  20 21  4  5 = 100 %</p>
<p>tapi ini rumus yang berlaku di negeri bule sono.</p>
<p>Kalau di Indonesia sih, itung-itungannya begini :<br />
G  I  G  I  H (<strong> hardwork </strong>):<br />
7 9  7  9  8 = 40 % Saja</p>
<p>I    L    M  U (<strong> Knowledge</strong> )<br />
9  12  13 21 = 55 % Saja</p>
<p>L    O  B  I (<strong> Lobbying </strong>)<br />
12 15 2  9 = 38 % Saja</p>
<p>M   U   J   U    R (<strong> Luck </strong>)<br />
13 21 10 21 18 = 83 % Saja</p>
<p>S   I   K  A   P (<strong> Attitude</strong> )<br />
19 9  11 1  16 = 46 % Saja</p>
<p>K    O  R   U   P    S  I<br />
11 15 18 21 16 19 9 = 109 % Saaaaaaaaja</p>
<p>Jadi kalo di Indonesia yang paling penting bukan</p>
<p>ATTITUDE , tapi KORUPSI&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agushw.banjarbaru.net/2008/12/angka-vs-huruf.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
