agushw.banjarbaru.net
Mencoba Menulis Seadanya...
Mengatasnamakan Idealisme…
Sudah tak terhitung lagi berapa jumlah berita yang menampilkan berbagai macam aksi-aksi demonstrasi atau unjuk rasa yang dilakukan oleh para mahasiswa kita di media massa. Dengan berbagai macam topik dan tema yang bermacam-macam, yang dapat mendasari terjadinya demonstrasi itu sendiri. Lebih sering kita melihat mereka memprotes sistem pemerintahan yang mereka anggap kurang bekerja dengan baik dan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Dan tak jarang pula kita melihat pada saat aksi demo tersebut, mereka melakukan aksi anarkis yang justru merugikan. Apakah ini gambaran sejatinya para mahasiswa-mahasiswa cikal bakal pemimpin negeri ini?
Bermacam orasi mereka lontarkan, entah itu berisi kritikan, hujatan, caci maki, hinaan, dan segala bentuk ungkapan rasa ketidakpuasan dari mereka. Dengan paham idealisme yang mereka miliki dan menyatukan visi misi untuk memajukan Negara ini, mereka dengan lantangnya menyuarakan aspirasi mereka di depan umum. Memang patut di acungi jempol untuk mahasiswa kita sekarang, karena mahasiswa saat ini jauh lebih kritis dalam menyikapi suatu masalah yang melanda negeri ini. Tapi, apakah cara mereka dalam menyampaikan aspirasi itu sudah benar? Apakah mahasiswa kita sekarang telah benar-benar mencerminkan intelektualitas? Itulah pertanyaan kita selama ini.
Betapa mirisnya hati kita ketika melihat suatu aksi unjuk rasa yang di lakukan mahasiswa berujung kerusuhan dengan aparat setempat atau bahkan dengan para warga di sekitar aksi unjuk rasa tersebut. Saat melihat hal itu, pikiran kita tentang mahasiswa yang berwawasan luas dan mempunyai intelektualitas tinggi langsung hilang seketika. Justru mahasiswa ketika itu terlihat seperti segerombol manusia brutal yang tak mempunyai norma dan aturan-aturan. Tak jarang pula banyak korban yang berjatuhan, bahkan sampai ada yang meregang nyawa pada saat kerusuhan itu terjadi.
Ketika semuanya telah terjadi, seolah-olah para pemerintah dan aparat lah yang di salahkan dalam hal ini. Seakan-akan para mahasiswa lah yang merasa yakin bahwa mereka yang paling benar tanpa melihat semuanya dengan jelas dan mempertimbangkan semuanya sebelumnya. Padahal kalau kita melihat dengan hati kita, apa untungnya aksi demonstrasi tersebut bagi kita? Di tambah lagi ketika aksi demonstrasi itu di lakukan dengan cara mogok makan, cap darah, membakar sesuatu, dan hal-hal lain yang justru sangat merugikan mahasiswa dan juga bagi masyarakat umum. Tidakkah mahasiswa sebaiknya melakukan sesuatu yang jauh lebih berguna dan yang dapat menunjukkan bahwa kalian adalah mahasiswa yang benar-benar mempunyai intelektulitas tinggi.
Sebagai contoh yang seharusnya dilakukan sebagai mahasiswa yang peduli terhadap bangsa daripada melakukan aksi demonstrasi antara lain :
1. Ketika kalian yang mengaku mahasiswa, melakukan aksi demo tentang kenaikan harga barang-barang pokok dan BBM, mengapa kalian tidak melakukan aksi mengumpulkan dana atau mengadakan pasar murah untuk membantu para masyarakat miskin saja? Hal itu tentu jauh lebih bermanfaat bagi kalian sebagai mahasiswa dan juga masyarakat umum.
2. Ketika kalian yang mengaku mahasiswa, memprotes tentang kinerja pemerintah dalam menangani para koruptor yang dirasa belum memuaskan, mengapa kalian tidak membantu pemerintah dalam menangkap para koruptor tersebut? Jangan hanya bisa protes tanpa bisa melakukan sesuatu. Karena pemerintah juga manusia, yang kadang mempunyai salah, sama seperti kita. Tak ada yang sempurna di dunia ini selain Tuhan YME.
3. Dan yang jauh lebih penting adalah, ketika kalian yang mengaku mahasiswa, memprotes seorang pemimpin, entah itu walikota, gubernur, atau seorang presiden sekalipun. Pernahkah kalian berpikir tentang betapa sulitnya untuk menjadi seorang pemimpin? Bagaimana sulitnya memimpin masyarakat Indonesia yang berjumlah 220 juta lebih penduduk? Yang notabene mempunyai perbedaan satu sama lain dalam cara berpikir, bersikap, dan berperilaku. Janganlah berpikir tentang itu dulu, berpikirlah apakah kalian sudah bisa memimpin diri kalian sendiri? Siapkah kalian apabila kelak menjadi seorang pemimpin? Entah itu pemimpin keluarga atau bahkan pemimpin sebuah bangsa yang besar seperti halnya bangsa Indonesia.
Dan masih banyak lagi contoh-contoh lain tentang apa yang harus kalian lakukan selain melakukan aksi demonstrasi dan aksi-aksi lain yang merugikan yang tak dapat di muat satu per satu.
Sebagai sosok mahasiswa yang telah terdidik dan mempunyai nilai intelektual yang tinggi, semestinya kalian dapat belajar banyak setelah membaca tulisan di atas. Dapat membedakan antara kepentingan idealisme dan kepentingan egoisme, dapat memahami perbedaan yang ada dalam masyarakat Indonesia yang majemuk, dan dapat menjadikan diri kita sebagai seorang calon pemimpin bangsa yang dapat memimpin dengan hatinya dan bukan dengan nafsu serta egonya.
Inikah potret intelektualitas mahasiswa sekarang? katanya mahasiswa sekarang pintar-pintar….tapi kok bangsa ini tetap seperti ini….
Kembali ke halaman utama10 Responses to “Mengatasnamakan Idealisme…”
Leave a Reply
agushw.banjarbaru.net mengucapkan terima kasih kepada Anda sudah membaca tulisan ini.....dan terima kasih pula sudah meninggalkan commentnya atas tulisan ini






Waktu dikampus kita ada demo penurunan Rektor kamu ada dimana Wo, perasaan waktu aku dan teman² ke tenda biru kamu kok ga ada ya……..?
yah.. emang, terkadang para mahasiswa kita sedikit agak berlebihan… Kadang tindak kekerasan juga ada-yang walaupun ga tau apa itu mahasiswa bener atau “jadi-jadian”-
Kalo di banjarmasin yang saya tau, yang kebanyakan demo itu justru bukan mahasiswa…
Demonstrasi adalah sebuah media untuk menyalurkan aspirasi yang tersumbat.
Tersumbat bisa berarti adanya mekanisme penyerapan aspirasi yg tidak berjalan sebagaimana mestinya, bisa pula berarti aspirasi sudah tersalurkan namun tidak mendapatkan respons sebagaimana mestinya. Pada titik inilah demo menjadi media idealisme.
Pada kesempatan lain, demo bisa juga menjadi sebuah cara untuk menunjukkan eksistensi seseorang atau sekelompok orang. Pada titik inilah demo menjadi media penyaluran egoisme.
Mahasiswa tidak berada pada kerangka penyelesaian masalah, tapi berada pada posisi pressure group terhadap policy yang menyimpang dengan segala keterbatasan yang ada pada mahasiswa. Pada titik ini, mahasiswa harusnya menelurkan antitesis kebijakan pemerintah yang dianggap mencederai hati nurani rakyat.
Beberapa contoh yang Anda kemukakan bukanlah untuk porsi mahasiswa, terutama pada poin 1 & 2. Mahasiswa berada pada posisi melakukan pressure agar intstrumen negara bekerja dengan baik.
Memang, kekerasan dalam aksi bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan. Karenanya mahasiswa memiliki kewajiban untuk terus meningkatkan kualitas dirinya, mencari nilai tambah dari pada sekedar teriak-teriak. Tidak pernah mantap posisi dan status seorang mahasiswa jika tidak disertai isi kepala. Mahasiswa harus sudah bisa membedakan diri dengan OSIS besar, pada pemikiran dan gerakannya, bukan pada tua mudanya.
aku no koment, memang setiap hal ada baik ada buruk, ‘98. kalau tak ada mahasiswa, mau jadi apa bangsa kita dimpimpin orang begitu? semua memang punya jalannya masing-masing. Setiap orang terkadang merasa benar, tapi saya sebagai mahasiswa tidak mengatasnamakan siapa-siapa dengan tegas mengatakan, saya hanya menurut apa yang saya pahami benar dan patut diperjuangkan… hehehe
yahh..namanya juga mahasiswa,waktu jadi mahasiwa demo terus..nanti jika kelak jadi pejabat,paling2 ikut korup juga..uahkahakuhuaa
#carbonized
iya bon aku lagi ngopi di cafe depan kampus…hehehe
#anna
memang kadang setiap aksi mahasiswa yang berujung anarkis, karena ditunggangi sebagaian oknum (mahasiswa “jadi-jadian”) yang memanfaatkan momentum tersebut untuk mencoreng mahasiswa.
#pakacil
memang demonstrasi adalah sebuah media penyaluran aspirasi yang tersumbat, tetapi alangkah lebih baiknya dilakukan dengan damai dan tanpa merugikan banyak pihak
#awym
perjuangkan terus kebenaran itu wym….
#ichal
terkadang juga begitu chal….waktu jd mahasiswa ikut juga berdemonstrasi, tetapi setelah masuk di instansi pemerintahan yang mempunyai “lahan basah” ikut juga tuk korup
awym tuh, yg lagi semangat berdemokrasi dan berinspirasi di kampus! awas wym wkwkwkwk
bowoooo,ui bowoooo..kiapa kbr euy?….msh ingatkah dua urang bungas?hahahahaha
Demo sih boleh2 saja tapi semestinya dilakukan dengan santun, misalnya:
1.tdk mengganggu ketertiban umum, tdk memblokade jalan, membajak mobil yg lewat, bakar ban.
2.tdk merusak fasilitas umum, misal merusak pagar, lempar kaca.
3.tdk mencaci pribadi seseorang, cukup mengkritik kebijakannya.
4.kalau pesertanya laki2 dan perempuan, harus dipisah jangan campur aduk, barisan laki2 di depan, perempuan di belakang, dibawah koordinator keamanan untuk menghindari provokator yg menyusup.
apalagi ya? paling tidak seperti itu deh. aspirasi kita tetap bisa tersalurkan tanpa menimbulkan citra negatif. kalaupun kita mau menyampaikan aspirasi kepada anggota dewan misalnya, cukup mengirim beberapa perwakilan untuk audiensi. massa demo yg lain cukup orasi saja di luar untuk menyampaikan tuntutannya sampai muncul opini di masyarakat maupun media. saya rasa seperti itu sdh cukup.