http://agushw.banjarbaru.net
Mencoba Menulis Seadanya...
Mengusik Keheningan Malam…….
Dikeheningan malam sekitar jam 01.00 wita dinihari (Senin 29/9)….terdengar suara gaduh sirine bersahutan dari beberapa buah mobil pembunuh api (alias pemadam kebakaran). Ternyata si jago merah beraksi lagi, mengamuk tanpa memandang bulu. Kali ini si jago merah mengamuk di kelurahan keraton, tepatnya dibelakang Bank Danamon Cab. Martapura. Ketika aku berada disana, sijago merah sudah tunduk dengan para pembunuh api, yang terlihat hanya lah kepulan asap dibekas amukan si jago merah. Menurut informasi dari beberapa warga penyebab si jago merah mengamuk adalah hubung singkat listrik dan ada juga akibat dari kompor. Terlepas dari mana asal sijago merah marah tapi yang pasti sudah menghanguskan beberapa rumah warga yang terbuat dari kayu (katanya ada sekitar 5 buah rumah terbakar). Saat itu arloji ditangan saya menunjukkan jam 02.00 wita (dinihari) berpuluh-puluh mobil pembunuh api masih berdatangan, padahal si jago merah saat itu sudah koit.
Seruan…yang seru..
Renungan Hati
ku teringat hati yang bertabur mimpi
kemana kau pergi cinta
perjalanan sunyi engkau tempuh sendiri
Blogger Malaysia Dibui Dua Tahun
Selasa (23/9) malam, setelah acara pembacaan sajak-sajak Ajamudin Tifani di gedung serbaguna Museum Lambung Mangkurat, didepan gedung tepatnya diteras tak beratap rekan-rekan berkumpul dan berbincang. Ada banyak wacana yang dicelotehkan, tapi ada satu wacana yang sepertinya sangat menarik. Yaitu tentang proteksi atau payung hukum seorang blogger terhadap tulisannya. Kemarin ada salah seorang teman bercerita, terjadi perlakuan tidak wajar terhadap blogger mengenai tulisannya, katanya si_blogger itu mendapat perlakuan fisik yang tidak wajar. Nah beberapa waktu yang lalu juga terjadi pada seorang blogger negara tetangga, bahkan sampai dimasukkan “Hotel Prodeo” akibat tulisannya.
Seanarkis itu kah “Satpol PP”
Kejadian bentrok fisik antara mahasiswa dengan aparat “keamanan” (red : Katanya?????) ataupun satpol pp memang sudah menjadi sarapan indra penglihat, indra pendengar dan hati (khusus bagi yang punya perasaan). Dan bukan cuma menjadi stereotip orang saja bahwa dalam panggung demokrasi bangsa ini biasanya jika mahasiswa yang berperan sebagai protagonis maka aparat tersebut berperan sebagai antagonis (baca:penjahat)…dan memang seperti itu. Lihat saja bentrok yang terjadi pada hari Selasa (26/8/2008) di Jl. Diponegoro, Jakarta Pusat, tepatnya di sekretariat PGI (Persatuan Gereja Indonesia). Dengan anarkis satpol pp melakukan aksi pelemparan terhadap mahasiswa aktivis Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) yang berada di gedung PGI. Ironisnya itu karena satpol pp tidak terima dengan spanduk yang berisi kecaman terhadap kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat. Spanduk yang bertuliskan “Tolak Perda Tibum Menyengsarakan Rakyat” memang dibuat atas sikap aparat satpol pp yang sudah seminggu melarang PKL berjualan di Jl. Diponegoro tersebut. Bentrok terjadi bermula dari aksi satpol pp yang hendak merampas spanduk tersebut tapi tetap dipertahankan oleh aktivis GMKI.



